24 Mei 2026

PASAR TRADISIONAL DI INHIL SEMRAWUT, Zainal: Pasar, ‘Anak Tiri’ yang Dibiarkan Merangkak Sendiri

0

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Indragiri Hilir, Drs. H. Nursal.


RIAUPERS.CO.ID, INDRAGIRI HILIR – Potret pasar-pasar tradisional di Inhil, terutama pasar yang ada di ibukota kabupaten cukup memberikan gambaran betapa tidak layaknya kondisi fasilitas umum masyarakat secara luas hari ini. Mulai dari Pasar Kayu Jati, Pasar Pagi, Pasar Terapung, Pasar Tengah, Dayang Suri hingga Pasar Teluk Pinang, Pasar Sungai Salak dan Pasar Guntuk.

Hampir semua pasar yang dibangun dan diresmikan pemakaiannya oleh pemerintah daerah, tidak dikelola dengan baik. Ibarat “anak tiri” yang dilahirkan, semua pasar yang ada dibiarkan merangkak mengurus diri sendiri tanpa perhatian khusus.

Fakta lapangan ini tidak ditampik oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Indragiri Hilir, Drs. H. Nursal yang didampingi Plt. Kabid Pasar saat ditemui awak media Riau Pers kemarin, Minggu pagi (14/09).

“Memang benar bahwa kondisi pasar-pasar tradisional yang ada kondisinya cukup memprihatinkan. Sejak diresmikan pemakaiannya, kita belum pernah memperbaiki dan merehabnya. Banyak hal menjadi sebab tidak adanya perbaikan pasar-pasar tradisional tersebut. Salah satunya alokasi anggaran untuk perbaikan fasilitas umum tersebut tidak ada,” terang Kadis Perindag.

Sebut saja, Pasar Kayu Jati yang terletak di Kelurahan Tembilahan Hulu yang mampu menampung 500 pedagang kios dan los, sekitar 107 kios dan los rusak berat dan tidak bisa digunakan dengan layak. Diperparah lagi jalan akses dalam lokasi pasar jika hujan atau banjir rob sama sekali tidak memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya. Hal serupa juga dialami Pasar lainnya, kondisi atap bocor, jalannya becek berair, semrawut.

Menanggapi hal tersebut, Akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Indragiri, Zainal Arifin Hussein, SE, MM mengibaratkan Pasar Tradisional yang masih menjadi pusat perputaran ekonomi rakyat di Kabupaten Indragiri Hilir dengan
“Anak Tiri yang dilahirkan kemudian ditelantarkan dan dibiarkan merangkak sendiri. Ribuan pedagang kecil menggantungkan hidup dari jual beli di pasar, sementara masyarakat luas menjadikannya tempat utama pemenuhan kebutuhan sehari-hari. “Kondisi pasar belum optimal pengelolaannya. Infrastruktur kurang terawat, tata kelola lemah serta konstribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi yang minim menjadi persoalan klasik yang tak kunjung tuntas,” pungkas Zainal.

PAD Hanya Rp250 juta Pertahun

Pemerintah daerah juga dinilai tidak serius mengelola sektor pasar, buktinya lebih dari satu dekade pendapatan asli daerah (PAD) realisasinya tidak bergerak dari Rp250 juta/tahun dengan target pada pembahasan APBD tahun 2025 terakhir hanya Rp500 juta/tahun. Padahal potensi PAD dari sektor retribusi pasar cukup menjanjikan jika dikelola dengan baik.

“Realisasi PAD sekitar Rp250 juta setahun dari seluruh pasar yang dikelola Disperindag, seperti Pasar Guntung, Pasar Teluk Pinang, Pasar Pagi, Pasar Kayu Jati, Pasar Sungai Salak, Pasar Terapung hingga Pasar Dayang Suri,” terang Plt. Kabid Pasar Disperindag Inhil, H. Taharuddin.

Menjadi ironi PAD Inhil sektor retribusi pasar jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga. Data yang dihimpun Riau Pers , Kabupaten Indragiri Hulu pada tahun 2025 diproyeksikan sebesar Rp1,85 miliar, Kabupaten Kuantan Singingi mampu mengumpulkan PAD dari sektor retibusi pasar Rp1,2 miliar lebih pertahun. Sedangkan Kabupaten Pelalawan sudah membukukan PAD di sektor retribusi pasar Rp800 juta lebih pertahun.

Menurut Zainal Arifin, pemerintah daerah perlu melakukan terobosan baru dalam tata kelola pasar. “Dua opsi yang dinilai realistis yaitu dengan membentuk perusahaan daerah (Perusda/Perseroda/Perumda, red.) pengelolaan pasar atau menata pengelolaan melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD),” terangnya

Jika pasar dikelola layaknya perusahaan dengan standar transparansi dan profesionalisme, maka pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat transaksi. Tetapi juga menjadi roda penggerak ekonomi lokal yang kuat. (HKR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *